Cirebon, Kota Penakluk Cinta Pandangan Pertama

Cirebon, Kota Penakluk Cinta Pandangan Pertama

Huhft… Akhirnya sampai hotel juga”, aku mendesah lega. Lirih. Tak sabar rasanya untuk mandi dan ganti baju. Bukan, bukan itu. Yang benar, tak sabar untuk segera berbaring, meluruskan punggung, kaki, juga memejamkan mata. Aku punya waktu sekitar satu jam sebelum lanjut agenda, tapi dikurangi jatah mandi, ganti baju, make up, oh my God… Bisa jadi aku butuh tambahan waktu dua kali lipat.

Fren, perjalanan panjang dari Bandung sampai tiba di Hotel Neo Cirebon ini memakan sekira 10 jam. Break point di Sumedang Ekspres, Telaga Nilem, Telaga Remis, dan STIMIK CIC, sisanya duduk di mobil. Sungguh.. semua peserta pun merasakan yang sama: pegal dan lelah. Tapi asik dan menyenangkan. Karenanya, hasrat untuk beristirahat itu disepakai sebagai bagian dari keseruan #Jelajah4G. Bukan keluhan.

Ah, ya. Aku belum cerita soal kunjungan ke STIMIK CIC Cirebon. Dalam rangka Smartfren Goes To Campus, bagian dari program Community Development Smartfren. Sekitar 30 menitan, Tim Comdev sharing tentang edukasi perkembangan teknologi 4G LTE kepada para mahasiswa dan pengunjung. Kebetulan, acara masuk dalam rangkaian pameran dan bazar di halaman kampus. Cukup ramai.

Lebih seru lagi, setelah itu peserta dan tim #Jelajah4G meluncur ke kantor Radar Cirebon. Silaturahmi dengan manajemen dan redaksi Radar Cirebon, juga shooting talkshow “Solusi Publik” di Radar Cirebon TV. Ekhm, aku ikut jadi narasumber, lho.. (sombong dikit). Mewakili Smartfren Community. Tentunya ada Head of Comdev Smartfren dan Delegasi Chevy Spin Indonesia juga. Sayangnya, wajahku kusam dan sama sekali tak sempat touch up.. #hiks

Masih untung talkshow ini bukan live. SolPub tayang setiap Senin pk. 20.00 WIB. Jadi mau ngomong salah berkali-kali pun tak masalah. Bisa diulang. Memang ngobrolin apa sampai takut salah? Ringan, sih. Tentang program Jelajah Wisata Jawa Barat 2016 bersama Smartfren. Tapi tetap lebih tenang kalau taping seperti ini.

“Damae, come here.. Ini kunci kamarmu.”, kepala Tim #Jelajah4G memanggil. Baiklah. Tak perlu mengkhawatirkan yang sudah lewat. Sekarang saatnya peserta masuk kamar masing-masing. Terserah mau ngapain. Yang jelas, kami akan berkumpul di resto hotel ini satu jam lagi.

Gathering Smartfren Community Cirebon

Riuh adu piring dan sendok terdengar dari lobi Hotel Neo, begitu pintu lift terbuka. “Waduh, kita beneran telat nih”, cemasku dan Irfa yang sudah menyiapkan persekongkolan untuk datang terlambat. Mulai alasan: wajarlah kalau mereka sudah berkumpul semua, kan cowok nggak butuh waktu dandan, lha kita kan cewek. Sampai alibi yang terdengar sedikit konyol, semacam ini: bantal dan bednya empuk banget, nggak tega buat buru-buru ninggalin. Apa pun itu, kesimpulannya tetap sama, kami masih enggan beranjak dari kamar.

Ternyata begitu sampai resto, baru tampak segelintir peserta yang datang. “Cirebon hujan, mbak. Masih banyak yang di jalan tapi terjebak hujan”, kata Iskandar, peserta yang sudah datang sejak 2 jam lalu, demi terhindar dari hujan (atau saking antusiasnya?). Meski curiga bakal banyak peserta yang cancel dan terlambat, tapi setidaknya aku punya waktu untuk makan dengan nyaman. Maklum, risiko MC (yang juga seksi rawa riwi) biasanya rudet menyiapkan acara sampai tak sempat memikirkan prioritas diri sendiri.

Oke, mari kujelaskan. Saat ini peserta #Jelajah4G sedang berada di lokasi acara Launching & Gathering Smartfren Community Cirebon. Tak ada yang beda dari acara gathering di kota-kota lain. Ialah mempertemukan dan menyatukan keluarga besar user Smartfren, sharing #Generasi4G, sharing product & network knowledge Smartfren, mendengar curahan hati para user dalam sesi tanya jawab, dinner, hiburan, bagi-bagi doorprize untuk kompetisi live posting selama acara berlangsung, dan foto bersama.

Turut hadir, komunitas Blogger Cirebon, Rebon.org. Komunitas yang tak sekadar ajang kumpul para blogger, tapi juga para generasi kreatif yang senantiasa mempromosikan segala kekayaan Cirebon. Mulai beragam kuliner yang unik-unik namanya, pariwisata yang oke punya, hingga kebudayaan yang masih sangat melekat dan tak dimiliki kota lain. Applause untuk semangat mereka.

Peserta gathering juga sempat dibuat kagum oleh tiga pemuda Cirebon yang berhasil membuat mobile apps bernama “Kitar”. Aplikasi yang berisi informasi tentang lingkungan sekitar. Dari tempat tambal ban sampai hotel berbintang ada semua di sana. Beberapa kali menyabet lomba dan sempat mendapat apresiasi dari Mantan Presiden SBY. Saat ini Kitar sudah bisa didownload secara gratis di Play Store. Bahkan user tak hanya bisa mencari, tapi juga menambahkan informasi yang dia ketahui sesuai kategori dan petunjuk yang terdapat di aplikasi. Keren, kan?

Oya, semula direncanakan usai acara gathering ini, peserta #Jelajah4G akan diajak menonton Pagelaran Tari di Keraton. Apalah daya, “Hayati lelah.. ” canda mereka. Begitu MC closing acara dan rampung foto bareng, semua peserta lekas kembali ke kamar masing-masing. Sembari saling mengucap ‘selamat istirahat….’.

Menikmati Tahu Gejrot dan Nasi Jamblang

Auuaaaghhh… Aku masih ngantuk.. Sangat. Kalau bukan demi Tahu Gejrot dan Nasi Jamblang yang sudah heboh dibicarakan peserta di grup WhatsApp #Jelajah4G, sepertinya aku tak kan bangun sepgi ini. Bayangkan, Fren! Jam 8 pagi sudah mandi, ganti kostum, packing, dan siap cussss ke resto hotel. Sekali lagi, demi Tahu Gejrot dan Nasi Jamblang (yang belum tahu kapan lagi aku bisa menikmati kuliner khas Cirebon itu kalau pagi ini melewatkan jam sarapan).

Memang apa istimewanya dua makanan itu? Heizhh.. Simak baik-baik, ya!

1. Tahu Gejrot

Ini tahu yang paling aku suka dari semua jenis tahu di Indonesia. Istimewanya, selain berbahan dasar tahu Sumedang yang sudah digoreng dan dipotong-potong, tahu ini dimakan dengan sambal asam manis. Sambal terbuat dari cabai rawit, bawang putih, bawang merah, garam, diuleg jadi satu dalam keadaan mentah. Disiram air gula merah yang sudah dicampur dengan asam. Beuuuh… Yummmiiii… Kebayang kan rasanya? Asam, manis, pedas, asin, gurih. Komplit.

Persis “rasa kehidupan”. Mana ada hidup yang maniiiiis terus, bisa-bisa diabetes. Asam doang juga nggak mungkin. Pedas setiap hari juga mustahil. Bukankah hidup memang kumpulan segala rasa? Segala rasa itulah yang justru membuat kehidupan senantiasa penuh warna. Filofosi ini yang kutemukan di Tahu Gejrot, dan membuatku jatuh cinta sama kuliner khas Cirebon satu ini. Meski sudah terkenal di seantero kuliner Nusantara, cita rasa khasnya tetap beda. Karenanya, mumpung sedang singgah di Kota Udang ini, sama sekali tak boleh melewatkan untuk menikmati Tahu Gejrot.

2. Nasi Jamblang

Percaya atau tidak, seusia 23 tahun ini aku baru pertama kali ketemu Nasi Jamblang. Kekayaan kuliner Cirebon yang tak sekadar “maknyus”, tapi juga legendaris dan memiliki nilai histori. Konon, Nasi atau Sega Jamblang ini berasal dari bagian barat kota Cirebon, desa Jamblang. Semula diperuntukkan bagi para pekerja paksa yang sedang membangun jalan raya Deandels, Anyer-Panarukan. Tak heran nasi Jamblang dijual dengan harga relatif murah, meski lauknya banyak.

Uniknya, bukan daun pisang yang dipakai untuk membungkus nasi ini seperti di kota-kota lain. Melainkan daun jati, karena dipercaya memiliki pori-pori yang bisa menjaga kualitas nasi meski disimpan dalam waktu lama. Terlebih, nasi baru dibungkus setelah dingin atau sudah dianginkan, agar tidak lekas basi. Pemikiran hebat yang ditelurkan wanita pribumi Cirebon saat penjajahan kala itu, menandai betapa orang Cirebon juga memiliki kekayaan intelektual kan?

Pantas saja, Mantan Presiden SBY juga dikenal sebagai pelanggan setia Nasi Jamblang. Bahkan ajudannya sering membawa Nasi Jamblang Mang Dul di Jl. Cipto Mangunkusumo No. 4, warung Nasi Jamblang yang disukai SBY, ke Istana Presiden. Takaran nasi yang hanya sebesar kepalan tangan, ditambah aneka lauk diantaranya tahu sayur (bacem), telor dadar, ikan asin, satai kentang, tempe, prekedel, dan sambal khas Cirebon; sudah pasti bikin ketagihan.

Beruntungnya aku. Dua menu khas Cirebon pagi itu mengusir kelesuan, meski rasa kantuk tak tetap tak bisa bohong. Tapi bisa sarapan Tahu Gejrot dan Nasi Jamblang ditemani gerimis manis, nikmat nama lagi yang kudustakan?

Itu dia pesona kota Cirebon yang membuatku jatuh cinta di jumpa perdana. Suer, ini pertama kali aku bermalam dan menikmati sejumput kekhasannya. Seketika itu juga aku bertekad untuk bisa kembali lagi, karena Cirebon masih menyimpan sejuta pesona lain yang belum kusibak.

(bersambung)

Kisah sebelumnya:

Kepiluan Telaga Remis

 

 

Damae

You May Like Also

Leave a Reply