Menyelami Kesunyian Museum Linggarjati

Touch down, Kuningan City! Setelah menanti hujan reda di kawasan hotel Neo pagi tadi, rombongan #Jelajah4G akhirnya meluncur ke Kuningan sekitar pk. 10.30 WIB. Di destinasi terkahir ini, para #Generasi4G akan diajak untuk bernostalgia dengan sejarah Indonesia. Dikenalkan pada bagaimana perjuangan diplomasi para pemimpin terdahulu untuk merebut kembali tanah air tercinta dari tangan Belanda.

Finally, welcome at Museum Perundingan Linggarjati, Fren!

Kesejukan kaki gunung Ceremai menyeruak dan mengibaskan kerudungku. Seakan menyambut dan mengucapkan: Selamat Dataaang. Meski jalanan cukup terik jelang tengah hari, hawanya tetap sejuk dan tenang. Begitu situasi yang terlihat dari depan museum.

Oya, parkir kendaraan terletak di seberang jalan museum. Tepatnya seperti lapangan yang dikelilingi pusat oleh-oleh dan kerajinan khas Kuningan. Tampak juga pedagang jajanan kaki lima yang mangkal di bahu jalan mendekati bibir pagar museum. Mulai cilok, rujak, minuman segar, sampai buah-buahan ada semua. Sayang tak tersedia tempat sampah di sekitar para pedagang ini.

Jika Anda menggunakan transportasi umum, museum yang terletak di Jl. Gedung Perundingan Linggarjati, Desa Linggarjati, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan ini mudah dijangkau. Dari terminal Cirebon bisa ditempuh menggunakan bus jurusan Kuningan, turun di Cilimus. Cukup mengeluarkan kocek sebesar 8-10 ribu rupiah. Dilanjut angkutan desa dari Cilimus sampai Linggarjati, sekitar 3-5 ribu saja.

Museum bisa dikunjungi dalam 7 hari sepekan, tanpa libur. Jam kunjungan untuk Senin hingga Jumat dimulai pk. 07.00 WIB, dan tutup pk. 15.00 WIB. Sedangkan weekend (Sabtu-Minggu), dibuka satu jam lebih lambat dari hari biasa, tapi tutup jelang maghrib sekitar pk. 17.00 WIB.

Tak tampak ada loket atau papan tarif masuk di museum ini. Namun pihak museum menerima donasi berapa pun jumlahnya. Tersedia juga sekitar 10 guide yang bisa menemani pengunjung keliling museum dan menjelaskan history Gedung Perundingan Linggarjati. Kebetulan #Jelajah4G jadwalnya memang weekend, jadi museum tampak cukup ramai.

(Hanya) Seperti Memindai Buku Sejarah

Sayangnya, ekspektasiku terlampau tinggi. Kukira akan menemukan gambaran Perundingan Linggarjati yang “hidup” di sini. Hidup yang kumaksud bukan bernyawa. Melainkan.. Duh, bagaimana aku harus mengatakan ini. Ah, ya. Seperti Museum Satwa di Kota Batu, Jawa Timur. Museum 3D yang dikemas sangat apik, memanfaatkan teknologi audio visual, ditambah spot-spot menarik untuk memanjakan mata dan berselfie ria.

Ternyata.. Bukan bermaksud membandingkan. Tapi melihat museum ini, jujur saja, hanya seperti membaca buku sejarah. Terkesan kaku dan membosankan. Tak ada sensai “wow” yang kurasakan bahkan setelah mendengar semua penjelasan dai Sang Guide. Malah, aku sedikit ngantuk dan lelah mengikuti alur penjelasannya. Apakah Anda merasakan hal yang sama?

Jika boleh berkata lebih ekstrem, sebenarnya Guide tak seberapa penting perannya. Toh, semua yang dijelaskan sudah tertuang dalam buku kecil berisi kisah dan isi Perundingan Linggarjati. Buku ini dibagikan pada pengunjung di pintu masuk Museum. Suara Guide juga tak begitu jelas sampai belakang untuk rombongan yang terdiri dari banyak orang, karena tentu saja tanpa pengeras suara.

Lebih kejam lagi, seisi museum sudah ada fotonya di berbagai buku sejarah dan internet, sangat mudah dicari. Bagian ini tidak menggiring opini Anda untuk sepakat bahwa, “Ah, ngapain jauh-jauh ke sini, toh bisa searching dan hasilnya sama saja”. Bukan, bukan begitu, Fren. Saya hanya menyayangkan, setelah mengunjungi museum ini ternyata tak berbekas apa-apa. Persis baca buku sejarah saja.

Benar, memang. Di dalam museum ini disuguhkan bukti-bukti sejarah seperti ruang sidang lengkap dengan meja kursinya, kamar para delegasi negara Indonesia dan Belanda, foto-foto kegiatan perundingannya, mini diorama perundingan, sampai perabot asli yang pernah digunakan selama masa perundingan.

Namun yang lebih menarik bagi sebagian pengunjung (berdasar hasil wawancara singkat dengan pengunjung dari luar rombongan #Jelajah4G), ternyata justru halaman belakang museum. Masih satu lokasi. Tanah seluas 2,4 ha ini terpakai sekitar 800 m2 untuk bangunan Museum, sisanya halaman yang disulap menjadi taman. Aneka pohon dan bunga tumbuh di sini. Sangat lapang untuk bermain anak-anak, terutama kala mentari sudah bergeser dari atas kepala.

Di halaman ini juga terdapat monumen dengan mural yang menggambarkan Ketua Delegasi Indonesia dan Belanda saling berjabat tangan. Dalam monumen ini pula tertulis tiga isi pokok hasil Perundingan Linggarjati.

Hasil Perundingan Linggarjati

Perundingan Linggarjati 11-13 November 1946 menghasilkan 17 pasal yang intinya terdapat dalam tiga hal. Tiga isi pokok tersebut antara lain, pertama, Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura, paling lambat Belanda harus meninggalkan daerah de facto 1 Januari 1949.

Kedua, Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk negara Indonesia Serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat yang salah satu negara bagiannya adalah Republik Indonesia. Terakhir, Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Indonesia Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.

Hasil perundingan ini lalu menghasilkan naskah pesetujuan Linggarjati atau lebih dikenal dengan Perjajian Linggarjati yang disepakati di Jakarta pada 15 November 1946.

Sejarah Gedung Perundingan Linggarjati

Secara ringkas, sejarah museum ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tahun 1918 di tempat ini berdiri sebuah gubuk sederhana milik Ibu Jasitem
Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana dirombak menjadi bangunan semi permanen.
Tahun 1930 dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal keluarga Van Os.
Tahun 1935 dikontrak oleh Theo Huitker dan dijadikan hotel dengan nama RUSTOORD.
Tahun 1942 Jepang menjajah indonesia, dan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Hokay Ryokan.
Tahun 1945 setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.
Tahun 1946 di gedung ini terjadi peristiwa bersejarah yaitu berlangsungnya perundingan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda yang menghasilkan naskah linggarjati, sehingga gedung ini sering disebut sebagai gedung perundingan Linggarjati.
Tahung 1948 sampai 1950 semenjak agresi militer Belanda ke II, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara belanda.
Tahun 1950 sampai 1975 gedung ini ditempati oleh sekolah dasar negeri linggarjati.
Tahun 1975 Bung Hatta dan Ibu Sjahrir berkunjung dengan membawa pesan bahwa gedung ini akan dipugar oleh Pertamina, tapi usaha ini hanya sampai pembuatan bangunan sekolah untuk sekolah dasar negeri Linggarjati.
Tahun 1976 gedung ini oleh pemerintah diserahkan kepada Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk dijadikan museum memorial.

Selebihnya, Anda bisa searching, membaca buku sejarah, dan berkunjung langsung ke museum ini. Persinggahan para penjelajah hanya sekitar 1 jam di sini. Selesai berkeliling dan berfoto, kami meluncur ke pusat oleh-oleh kota Cirebon-Kuningan yang letaknya tak seberapa jauh dari museum. Tape ketan, kerupuk melarat, terasi udang, dan berbagai makanan khas lainnya ludes diborong.

Sebelum kembali ke Bandung, kami sempat mampir makan siang di salah satu resto searah masuk tol Cipali. Usai makan, kami menutup #Jelajah4G etape 1 dan akan berjumpa lagi 2 minggu kemudian untuk menjelajah Jabar etape 2. Dikarenakan beberapa hal, aku berhalangan ikut dan loncat ke etape 3.

Seperti apa keseruan #Jelajah4G etape 3? Kota mana saja yang dikunjungi? Nantikan postingannya ya, Fren! 🙂

Terima kasih sudah membersamai kami di #Jelajah4G.

Damae

You May Like Also

2 Comments

  1. Ah jadi pengen kesini.

    1. Ayok, mbak Uwien main2 ke Kawah Hujan..

Leave a Reply