Dolan nang Museum Kereta Api Lawang Sewu

Dolan nang Museum Kereta Api Lawang Sewu

Museum Kereta Api di Lawang Sewu 3

Jika digambar bangun ruang, perjalanan ini membentuk semacam segitiga. Saya memilih Kereta Api sebagai armada, menemukan Majalah Kereta Api di tempat duduk yang mengangkat topik utama Lawang Sewu, dan destinasi yang saya tuju memang Museum Kereta Api di Lawang Sewu, Semarang.

Kebetulan yang seolah hendak memberi tahu saya terlebih dahulu tentang bangunan bernama “Seribu Pintu” itu, sebelum megulik museum di dalamnya.

Dibangun pada 27 Februari 1904, pertama difungsikan untuk Kantor Pusat NIS, 3 tahun kemudian. Sempat jadi saksi Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 19450), antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) vs Kempetai & Kidobutai (Jepang).

Usai peristiwa itu, gedung yang terletak di Jl. Pemuda, persis di depan bundaran Tugu Muda, itu dipakai untuk Kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) —kini, PT KAI. Saat ini sudah diubah statusnya menjadi Museum.

Sob, selain replika sistem perkeretaapian dan beberapa peralatannya, di museum ini juga terdapat galeri foto pembangunan Lawang Sewu dari masa ke masa.

Museum Kereta Api di Lawang Sewu 2

Bangunan bersejarah dengan seni arsitektur yang sangat unik ini kian terawat dan rindang. Teriknya mentari Semarang tak begitu kentara selama berada di dalam kawasan gedung Seribu Pintu itu —yang juga menjadi salah satu icon Jawa Tengah.

Museum Kereta Api

Konon, rel kereta api yang dibangun pertama kali di Pulau Jawa itu untuk jalur Semarang-Vorsteladen. Pernah dengar Vorstelanden, Sob? Istilah untuk menyebut wilayah-wilayah Kerajaan jaman dulu. Sekarang kita kenal itu dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo.

Museum Kereta Api di Lawang Sewu 1

Berdiri di atas Loko Uap C 2301 yang beroperasi pada 1908-1980 untuk tujuan Semarang-Jatirogo dan Semarang-Blora, hati saya tetiba basah (karena bangga). Saya mustahil menjadi warga Jawa Tengah hari ini, jika dulu AMKA kalah. Tak mungkin Jateng merayakan Hari Jadi ke-66, 15 Agustus lalu, jika Jepang menang. Dan, kemerdekaan Indonesia esok hari takkan sempurna kalau Pertempuran Lima Hari kala itu, tak dimenangkan Sang Saka Merah Putih.

Maka memasuki Museum Kereta Api di Lawang Sewu ini, bukan sekadar melihat piranti persinyalan kereta seperti Tuas Wesel Alkmaar dan Lampu Hansen. Melainkan, segala pernak-pernik yang berhubungan dengan Kereta Api di sini, membuat saya lebih menghargai sejarah, lebih mencintai Indonesia.

Partikel sejarah bangsa terutama yang erat kaitannya dengan kisah perkeretaapian pertama di Indonesia, memang selalu menarik untuk diulik. Seperti pengambilan objek Lawang Sewu dengan sudut pandang orang normal dan satu titik hilang, yang tampak di foto berikut ini.

Museum Kereta Api di Lawang Sewu 4

Oya, di di sana juga ada satu ruang khusus pameran karikatur lengkap dengan kartunisnya. Kita bisa minta dibuatkan karikatur diri kita sendiri dan dikerjakan saat itu juga. Ngomong-ngomong, gaya saya sudah mirip pak Ganjar belum?

Damae

You May Like Also

Leave a Reply