Setia, Ancaman Terbesar Kepunahan Elang Jawa

Setia, Ancaman Terbesar Kepunahan Elang Jawa

“Di saat manusia sudah langka yang setia, Elang Jawa justru saking setianya, sampai tak bisa kawin lagi meski pasangannya sudah mati”

Bagi dunia manusia dewasa ini, sikap “setia” terbilang sesuatu yang langka. Maraknya kasus perceraian dan gonta-ganti pasangan, hingga deretan mantan pacar yang bisa tembus angka 25 untuk seorang pria lajang berusia belum kepala tiga. Menjadi bukti bahwa kesetiaan manusia hari ini seakan terancam punah.

Namun hal itu justru berbalik 180 derajat untuk dunia Elang Jawa. Jangankan kesetiaan, Elang Jawa bahkan sama sekali tidak bisa move on meski pasangannya telah lama mati. Ia rela tidak kawin lagi dengan Elang lain. Dijodohkan berkali-kali pun, lebih sering gagalnya ketimbang berhasil. Bisa 3 kali gagal dan 1 kali mendekati berhasil. Mendekati, belum tentu berhasil.

Sayangnya kesetiaan ini ternyata justru tidak membawa kebaikan untuk kelangsungan hidup si Elang. Malah menjadi faktor utama kepunahan. Lantaran tidak mau kawin lagi, berarti Elang tidak akan puya keturunan. Sementara saat punya pasangan saja, Elang baru bisa bertelur 2 tahun sekali dan hanya menghasilkan 1 telur.

Pun, belum tentu telur itu bertahan hidup lama sampai dia punya keturunan sendiri nantinya. Betapa rumitnya hidup Elang Jawa.

Kisah ini, saya dapatkan saat berkunjung ke Pusat Konservasi Elang Jawa di Kamojang. Zaini, pemerhati Elang yang tergabung dalam Reptor Indonesia, berbagi cerita.

Peserta WEGI 6 menyimak keterangan Zaini, pemerhati Elang yang tergabung dalam Reptor Indonesia.

Konservasi ini, terbentuk berkat kerjasama antara Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan PT Pertamina dan Reptor Indonesia (semacam jaringan peneliti dan pemerhati Elang). Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan populasi Elang di alam dengan program rehabilitasi dan melepasliarkan lagi ke alam.

“Saya salut sama Pertamina, kalau bahasa Sunda-nya mah, bukannya mau mengagung-agung (memuji). Karena program yang kita tawarkan adalah spent money atau membuang uang saja tanpa income.” kata Zaini. Meski ini hasil kerjasama, tapi semua pembiayaan 100% ditanggung PT Pertamina.

Konservasi Hanya untuk Elang Saja, Kenapa?

Elang Jawa (Sumber: WA Temen)

Indonesia memiliki jenis Elang terbanyak di dunia, sekaligus paling banyak pula kepunahannya. Itu risiko. Tak heran jika satwa ini dinobatkan menjadi satwa langka dan termasuk hewan yang dilindungi.

Status Elang di dunia sekarang sudah genting, kalau dalam 20 tahun tidak ada upaya konservasi, dia akan punah. Bahkan seluruh dunia melindungi Elang dari perdagangan ilegal melalui konvensi internasional for trade animals endemic species.

Di sisi lain, Elang Jawa disebut-sebut sebagai hewan paling mirip dengan lambang negara kita, Garuda. Kemiripan ini diantaranya tampak pada Elang yang masih muda, warna bulunya keemasan. Meski tak ada yang tahu persis seperti apa wujud asli Garuda dan seringkali hanya dianggap mitos.

Seperti kepercayaan orang Sumatra, tepatnya di Mentawai. Di sana terdapat Elang Wales yang juga disebut sebagai Garuda. Atau Alboneker (Elang Gunung) yang dipercaya sebagai Garuda oleh suku Dayak. Elang jenis ini bahkan dipakai untuk upacara adat Manajah Hasana. Elang dalam upacara ini diyakini bisa menentukan lokasi mana yang bagus untuk pertanian atau pemukiman.

“Apa dasar yang membuat Elang ini dinamakan Elang Jawa?” Avy, salah satu peserta WEGI bertanya di tengah penjelasan.

Masih menyimak keterangan Zaini

Jawa dalam namanya memang menunjukkan identitas. “Karena dia hanya ada di Pulau Jawa. Tidak ada di Sumatra, Kalimantan, atau pulau-pulau lain di Indonesia.” terang Zaini.

Elang Jawa juga dikenal dengan istilah Elang Endemik. Ialah Elang yang tidak bisa tinggal di luar habitat asalnya, pulau Jawa. Semacam mengidap kontaminasi genesis. Selebat apa pun hutan di pulau lain, Elang Jawa tidak akan bertahan hidup lama kalau keluar dari Jawa. “Nggak bisa bahasanya kali, Pak.”, celetuk Abraham, Staff Pertamina. Semua peserta sontak tertawa.

Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan spesies Elang lain dari Asia. Ketika musim dingin di Asia Utara seperti Siberia, Korea, dan Jepang, Elang-Elang dari sana bermigrasi ke Indonesia. Sebut saja semacam liburan musim dingin. Lokasi migrasi yang dipilih oleh para Elang ini tentu saja konservasi Kamojang, karena tempat ini menjadi salah satu wintering area.

Dalam jenis migrasi Elang, terdapat tiga istilah: rusting, stokover, dan wintering. Rusting terjadi ketika Elang sedang melakukan perjalanan dan kemalaman, maka ia akan beristirahat di lokasi itu, dan perjalanan dilanjutkan esok pagi. Kalau stokover, biasanya elang memang ingin istirahat selama 3 hari sampai 1 minggu.

Sedangkan wintering, Elang menghindari musim dingin dan mencari daerah yang lebih hangat. Kamojang ini dirasa cocok. Mereka akan kembali ke negara asal saat mulai musim semi. Dari 59 jenis Elang yang bisa migrasi, 32 jenis masuknya ke Indonesia.

Perjodohan Elang

Terdapat 311 jenis Elang di dunia, 90 jenisnya ada di Asia, dan 75 diantaranya terdapat di Indonesia. Saat ini di pusat konservasi terkumpul sekitar 50 jenis Elang, semuanya asli Indonesia. Selain Elang Jawa, di konservasi ini juga terdapat jenis lain, seperti Elang Brontok, Nisaetur Bartelsi dan Nisaetur Siratus.

Elang-elang ini tidak over setia, bisa move on dan kawin dengan elang lain. Meski butuh waktu 1 tahun untuk pendekatan dan mencocokan chemistry. Tapi banyak yang akhirnya berhasil dan bisa berkembang biak. Ketika saya ke sini, November 2016 lalu, dua pasang Elang yang sedang dijodohkan ada Laka dengan Mela, dan Dimon dengan Arni.

Uniknya, cara kawinnya Elang ini tidak seperti burung lain. Elang melakukannya dengan cara bercumbu di udara, atau Cordsidisplay. Karenanya agak sulit untuk dilakukan penangkaran di sini. Hanya Elang di Filipina, Thailand, dan Jepang yang bisa berkembang biak di penangkaran.

Keseharian Elang di Konservasi

Kawasan Konservasi Kamojang terbagi menjadi 5 area. Klinik, rehabilitasi, karantina, observasi, dan display. Setiap Elang yang masuk ke konservasi ini akan dicek dulu kesehatannya di ruang klinik. Setelah Elang dinyatakan sehat dan berhasil melewati tahap karantina, dia akan masuk kandang observasi.

Tapi jika tidak lulus uji karantina, Elang akan disuntik mati. Karena ia membawa virus, bakteri, atau penyakit yang bisa menular ke manusia dan membahayakan. Seperti flu burung yang bisa menular lewat udara atau kontak langsung.

Untuk Elang yang bertahan, setiap hari berada di bawah pengawasan dan selalu terjaga. Makan teratur dan bisa request menu. Ada burung puyuh, tikus, ular. Gantian menunya setiap hari. Spesial untuk Elang Jawa, makanannya hanya bisa tikus Jawa.

Elang di sini juga diajari bagaimana beradaptasi lagi dengan alam agar bertahan hidup dan mencari makan sendiri. Untuk Elang yang terluka atau cacat akibat perlakuan manusia, tim di konservasi dengan sagat sabar mengobati sampai semua kembali pulih. Berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan trauma, stress, dan mengembalikan kepercayaan diri si Elang sampai bisa berburu lagi.

“Si Kunyit itu dulunya cakarnya dirantai, nggak bisa berburu. Setelah dilatih terus, dia bisa berburu pake tangan satu.” jelas Zaini. Tapi belum tentu bisa survive kalau nanti dilepasliarkan. Makannya Elang selalu dipasangi transmitter di bagian ekor agar bisa dipantau pergerakannya selama bulan-bulan awal pelepasannya.

Nama Elang di sini memang mirip dengan nama manusia. Lantaran banyak diantaranya yang semula dipelihara, jadi nama itu diberikan oleh pemiliknya. Ada juga sebagian yang dinamai oleh tim konservasi. Tentu saja, nama-nama yang diberikan tidak jauh dari nama para pemberi namanya.

Ketua Umum WEGI, Arief H., juga meminta kepada tim konservasi, “Kalau nanti ada Elang yang masuk lagi, tolong diberi nama WEGI ya, Pak. Biar saat dilepasliarkan, anggota WEGI datang ke sini dan bisa menyaksikan.”.

Rencananya, kata Zaini, Januari 2017 ini akan ada Elang yang dilepasliarkan. Sobat mau ke sana?***

Damae

You May Like Also

2 Comments

  1. Menarik! Keep posting the insightfull info ya mba Damae 🙂

    1. Makasih, bu Ros.. Siap. Selalu terinspirasi juga dari tulisan2 bu Ros

Leave a Reply