Kereta Api di Kawah Abadi

Kereta Api di Kawah Abadi

Tuuut… Gujesgujesgujes… Tuuuut… Gujesgujesgujes… Tuuuut…

Suara mirip kereta api itu benar-benar terdengar jelas dari kejauhan. Anehnya ini bukan stasiun atau jalanan yang dilintasi rel kereta. Bagaimana bisa ada kereta di dalam kawasan hutan lindung? Sebagai gadis yang mengaku pecinta kereta api, tetiba merasa malu lantaran seumur hidup baru kali ini tahu.

Saya percepat langkah sampai berjarak beberapa puluh meter saja dari sumber suara. Dan, wuaaah… suara gemuruh yang terdengar seperti lokomotif kereta api itu alami dari perut bumi. Dari sebuah lubang yang tak begitu besar. Suara merangkak keluar disertai pusaran uap yang sangat kuat membumbung ke udara. Seperti angin putting beliung!

Sementara kawan-kawan tampak berkerumun dan sibuk menerbangkan rentengan plastik bekas ke udara, saya masih menganga. Di depan pagar yang jarak besinya teramat lebar, sekaligus menjadi pintu masuk ke area sumber suara, saya dapati sebuah papan bertuliskan “Kawah Kereta Api”.

Belum selesai ketertegunan saya pada kawah ini, sekali lagi saya terperangah. Ada seorang kakek di tengah kerumunan dan sedang memainkan sebuah bambu wulung di dalam lubang kawah. Mata saya tertuju pada golok lengkap dengan wadahnya, menempel di pinggang. Terikat sebuah tali nilon usang yang melilit, menyerupai sabuk.

Dalam hati saya bergumam, “Ini style para pria yang terlahir sejak 1 abad lalu”, persis gaya almarhum kakek saya. Dan, betapa terkejutnya saya saat mengangkat pandangan perlahan hingga melihat rupanya, ia benar-benar mirip (alm) kakek. Senyumnya, hidungnya, rambutnya, bentuk tubuhnya, tinggi badannya, bahkan matanya pun mirip.

“Ah.. Mungkin karena mereka sama-sama sudah berusia senja. Rasanya mustahil kalau kakek benar-benar punya saudara kembar”. Saya mencoba menenangkan diri.

Tak ingin lama melamun, saya bergegas melewati pagar dan mendekati lubang kawah. Uap keluar melalui celah-celah bebatuan dari perut bumi. Saya langsung menimbrung kawan-kawan yang sedari tadi asik menerbangkan plastik. Tekanan uap yang mencapai 2,5 bar dari kawah ini bahkan mampu menerbangkan botol bekas air meniral.

Cukup dekatkan plastik atau botol di sekitar putaran uap, dan wuuuzzzzz… plastik seketika terbang seperti petasan yang diluncurkan ke atas. Kekuatan pusaran uapnya mampu menyembulkan hingga puluhan meter. Lalu, blukkk!! Plastik terjatuh tak jauh dari area itu, bahkan beberapa kali mengenai kepala saya sendiri. Kawan-kawan jelas tertawa puas melihat saya terjingkrak kaget saat kejatuhan.

Selama kami menerbangkan plastik, Sang Kakek akan mencabut bambu wulungnya dari lubang kawah. Agar tekanan uap tak terhalang. Selama itu pula suara keretanya berhenti. Jadi suara kereta itu memang dari bambu yang dimainkan? Tepat sekali.

Saat bambu yang tingginya hampir dua kali lipat dari badan kakek itu dimasukkan ke lubang kawah, suara yang terdengar: tuuuuuutttt… . Kemudian kakek akan mengangkat dan memasukkan lagi si bambu dengan cepat, seperti memukul-mukul pelan, maka suara yang dihasilkan ialah: gujesgujesgujessss… . Begitu cara kawah kereta api bersuara.

Keriput di wajah dan gigi yang tampak ompong di bagian depan, tak mampu menyurutkan semangat sang kakek untuk terus menghasilkan suara kereta. Bahkan, ouch.. Volume suara yang keluar dari kawah ini sangat keras. Tak sampai satu jam di sini saja sudah membuat gendang telinga saya seakan mau pecah. Saking kerasnya. Tapi agaknya hal itu tidak berlaku pada kakek penjaga.

Konon, kawah kereta api yang terletak di kawasan Taman Wisata Panas Bumi atau lebih dikenal dengan Kawah Kamojang ini ditemukan pada tahun 1917-an. Tepatnya di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung. Berbatasan dengan Kabupaten Garut. Berada di atas ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut, kawasan kawah yang juga terpaut dengan kaki Gunung Guntur ini dikelola oleh PT Pertamina.

Penemu kawah kereta api alami (tanpa dibor) tak lain ialah sang kakek yang sampai saat ini masih setia menjaga. Hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk menjaga kawah ini. Orang sekitar menyebutnya Kuncen atau juru kunci. Sayangnya gemuruh suara uap tak memberi banyak kesempatan untuk sekadar berbincang sebentar. Parahnya lagi, saya lupa bertanya siapa nama sang kakek.

Selain kawah ini, masih ada kawah lain yang menjadi objek wisata, diantaranya Kawah Hujan, Kawah Nirwana, Kawah Manuk, dan Kawah Cibuliran. Kawah yang pertama disebut itu kawah yang paling sering dikunjungi, setelah Kawah Kereta Api. Dan, saya akan membagi kisah Kawah Hujan itu di tulisan berikutnya.***

*Big thanks to PT Pertamina & Komunitas WEGI for spesial journey, WEGI 6: PLTP Pertamina Kamojang & Konservasi Elang Jawa.

Damae

You May Like Also

1 Comment

  1. kpn ya bisa main kesana

Leave a Reply