Hujan yang Jatuh dari Perut Bumi

Hujan yang Jatuh dari Perut Bumi

“Mana ada yang jatuh dari bawah, segala sesuatu yang jatuh pasti dari atas!”. Membaca judul tulisan ini, mungkin Anda akan berpendapat demikian. Kodratnya, jatuh memang dari atas. Tapi itu tidak berlaku bagi sebuah tempat yang akan saya ceritakan.

Ialah Kawah Hujan.

Jangan bayangkan ini kawah yang dipenuhi hujan dari langit. Justru di kawah ini, hujan keluar dari perut bumi. Air dari dalam perut bumi menerobos bebatuan dan menyembur ke udara, lalu jatuh perlahan menyerupai hujan.
Tak semua air menyembur memang, hanya satu sisi saja. Sisanya mengalir di permukaan tanah yang tertutupi bebatuan alami. Mirip sungai kecil yang airnya sebening kaca. Suhunya bisa mencapai 115 derajat celsius.

Kuncen kawah ini bahkan menyediakan banyak telur untuk direbus. Bukan pakai kompor. Telur itu benar-benar hanya dimasukkan ke dalam air kawah yang mengalir saja. Telur-telur itu bisa matang dalam 5 menit.

Anehnya, semburan air yang jatuh justru hanya terasa hangat, sama sekali tidak panas. Jika berdiri sedikit lama dan terkena cipratan airnya, rasanya seperti tusukan jarum akunpuntur. Kata kuncen, ini bisa dimanfaatkan untuk pengobatan.

Saking panasnya, kawah ini dikerumuni kepulan uap pekat. Jika dibayangkan, saya seperti berada di atas gumpalan awan. Putih lagi hangat. Pernah meletakkan wajah di atas nasi yang baru saja matang? Nah, uap di kawah ini berkali-kali lipat panasnya dari itu.

Namun ada yang ajaib di sini. Kakek Kuncen yang tampak mistis dengan topi koboinya, menantang saya untuk mencoba uap yang bisa ia “mainkan” suhunya. Tak jauh dari semburan air terdapat tumpukan batu berukuran sedang. Saya disuruh berdiri di depan tumpukan batu itu, dan yang terjadi kemudian….

Dia benar-benar bisa mengendalikan suhu uap!

Tangannya memainkan laju uap seperti dirijen yang memandu paduan suara. Naik, turun, belok, berhenti di tengah, dinaikkan lagi, diturunkan lagi, sampai dihilangkan. Sembari mulutnya tak henti komat-kamit melafadzkan sesuatu, diselingi aba-aba peringatan tingkat panasnya uap.

“Tarik napas yang dalam, resapi udaranya. Buang perlahan dengan hati yang ikhlas, biarin penyakitnya keluar bareng sama napas.” kata Kuncen yang juga disebut Pawang Kawah Hujan.

Ia bercerita kalau uap dan air di kawah ini memang bisa menjadi obat dari berbagai penyakit. Tergantung keinginan pengunjung, apa yang hendak disembuhkan. Begitu pula dengan air yang mengalir di kawah ini, bisa menjadi terapi mandi air panas. Semacam sauna.

Ssst… Kakek Kuncen juga membisiki saya, “DI sebelah sana, ada seorang wali penjaga kawah ini. Sedang berdzikir.” sambil memberi kode kalau lokasi yang dimaksud itu berada lurus dari posisi kami berdiri. Sayangnya saya tak punya mata batin untuk melihat wali itu. Hanya saja, saya tidak megerti kenapa kakek kuncen harus memberi tahu soal ini? Merinding!

Tak terasa adzan dzuhur sudah berkumandang. Saya bergegas menggiring peserta WEGI 6 untuk kembali ke Mess Pertamina Geothermal Energy (PGE) untuk makan siang. Sembari berjalan pulang, keseruan Kawah Kereta Api terlihat jelas dari ketinggian Kawah Hujan ini. Benar, keduanya memang berdekatan dan masih satu kawasan di Taman Wisata Panas Bumi Kamojang, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Setelah ini, saya akan berkisah tentang satu-satunya perusahaan pengelola geothermal milik Indonesia. Yang luasnya setara dengan seperempat total panas bumi dunia. Nantikan!

Damae

You May Like Also

2 Comments

  1. Ah jadi pengen kesini.

    1. Ayok, mbak Uwien main2 ke Kawah Hujan..

Leave a Reply