Bioskop di Kaki Gunung & (Calon) Raja Panas Bumi

Bioskop di Kaki Gunung & (Calon) Raja Panas Bumi

Bioskop identik dengan mall, popcorn, dan display poster film yang sedang atau akan tayang. Tapi bagaimana sensasinya jika Sobat menonton flm di tengah kawasan hutan lindung yang berada di kaki gunung?

“Lah, mana ada bioskop di kaki gunung!” semula saya juga berpendapat sama. Sampai saya tiba di Geothermal Information Center (GIC) dan tercengang. Ternyata benar-benar ada. Bioskop di kaki gunung!

Jangan bayangkan film yang tayang di sini sama seperti XXI. Ini bioskop eksklusif yang hanya memutar film tentang panas bumi dan Pertamina Geothermal Energy (PGE).

Uniknya, seluas mata beredar, tak hanya bioskop yang memikat saya. Gedung megah nan modern dengan ruang display berdesign elegan ini dilengkapi piranti audio visual. Di ruang display terpajang alat bor panas bumi dan bebatuan yang terbawa ke permukaan.

Tentu saja terdapat foto-foto seputar PGE dan Desa Wisata Kamojang: Wisata Pendidikan, Alam, Budaya, Agro, dan Air. Di halaman nan luas, tampak pula seperangkat pipa dan sumur uap yang menggoda kamera. Semua didesain modern, sarat informasi dan edukasi. Malah, agaknya konsep GIC ini bisa menjadi acuan untuk merombak museum-museum yang hari ini “mati suri”.

Memasuki bioskop, saya dan peserta WEGI 6 disambut beberapa Staff PGE yang sudah kembali dari Jakarta. Kondisi sangat sepi. Sejumlah Staff lain masih melakukan aksi demo di Kementrian BUMN terkait penolakan akusisi PGE oleh PLN.  (Selengkapnya: baca di sini)

Bukan petugas bioskop, beliau adalah Bpk Ridwan yang terus gigih memperjuangkan kedaulatan RI lewat pekerjaannya di Pertamina

Banyak sekali ilmu baru tentang panas bumi yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, dijelaskan secara gamblang di sini. Perangkat audio visual membuat presentasi dari PGE tidak terkesan membosankan. Sayangnya dinginnya kaki gunung yang mencapai suhu 18 derajat di malam hari, meski kunjungan ini dilakukan pagi, ditambah tenangnya suasana, berhasil memaksa sebagian mata peserta terlelap. Bahkan ada yang mendengkur! #Upz

Sejarahnya, sumur uap pertama digunakan oleh masyarakat di Lardrello, Italia, untuk pembangkit listrik, sekitar tahun 1904. Kini sudah hampir 100 negara yang memanfaatkan panas bumi, baik langsung maupun tak langsung. Bermula dari zaman Romawi, panas bumi mereka memanfaatkan untuk menghangatkan ruangan dan mandi. Begitu juga di Zew Zealand dan Jepang.

Indonesia, Sang (Calon) Raja Panas Bumi Masa Depan

Bumi Pertiwi tercinta ini, dikaruniai 40% dari total cadangan panas bumi yang ada di dunia. Bayangkan jika seluruhnya dimanfaatkan secara maksimal, Indonesia bisa menghasilkan 29000 MW dan dapat mengaliri listrik ke 20 juta rumah. Kalau Arab Saudi dijuluki Raja Minyak Bumi, maka harusnya Indonesia bisa jadi Raja Panas Bumi.

Sayangnya, baru sekitar 2000 MW saja yang sampai saat ini sudah dimanfaatkan. Padahal energi panas bumi berbeda dengan energi lain. Panas bumi punya siklus seperti hujan yang bisa merecycle dirinya sendiri. Sekali dibor dan berhasil, seumur dunia sumur itu bisa dimanfaatkan.

Satu-satunya perusahaan yang berhak melakukan pengeboran energi terbarukan ini hanyalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), anak usaha Pertamina (Persero). Pengolahan sumber energi yang ditemukan hingga menjadi listrik yang siap dialirkan itu dilakukan oleh Indonesia Power. Sama-sama terdapat di Kamojang.

Kunjungan WEGI ke PGE ini tak lain untuk membuktikan bahwa PGE memang sudah melakoni green industry. Sinergi yang apik antara industri dan lingkungan, ditambah implementasi CSR yang tepat sasaran, berhasil membuat PGE meraih 4 kali berturut-turut Proper Emas. Usai mengeksplor PGE, kami bergegas menuju Taman Wisata Kawah Panas Bumi dan Pusat Konservasi Elang Jawa Kamojang. Keduanya tak lepas dari bantuan PGE. (Selengkapnya, baca di sini, di sana, dan di situ).

Karenanya seakan tak masuk akal jika Kementrian BUMN keukeuh menyuruh PLN untuk mencaplok PGE. Hanya karena PLN yang punya hak jual listrik, sementara PGE hanya berhak memproduksi sumber energinya. Konspirasikah?

Sebelum mengakhiri sesi di bioskop, salah seorang Staff PGE berorasi, “Kalau sampai PGE benar-benar digenggam PLN, siap-siap saja gigit jari kalau nanti aset alam Indonesia berpindah ke tangan Asing”. Tinggal tunggu waktu. Itulah kenapa kita, pemilik Indonesia, harus bersatu untuk menolak kebijakan yang sangat tidak bijak dari Kemen-BUMN. Begitu ia menyeru, menggebu-gebu. (Lebih lanjut terkait kasus “pencaplokan” ini, klik di sini).

Semoga, Pertamina Geothermal Energy tetap kokoh berdiri dan pemerintah bisa membuat keputusan terbijak. Karena sumber daya alam Indonesia itu milik rakyat dan harus dImanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan rakyat. Pemerintah hanya diamanati untuk mengelola, bukan malah memanipulasi untuk “perut sendiri”.

Foto dulu setelah nonton

Inilah akhir dari episode tulisan tentang WEGI 6: Jelajah PLTP Kamojang & Konservasi Elang Jawa. Meski sudah terlaksana jauh hari pada 11-12 November 2016, maafkan keterlambatan saya untuk merangkai kisahnya. Terima kasih PGE dan segenap peserta. Sampai jumpa di program WEGI selanjutnya.***

Damae

You May Like Also

3 Comments

  1. Mantaf ini

  2. Rajin kakak
    Yang saya ingat disana ada bapak2 nundutan saat nonton video tentang PGE Kamojang

  3. I love reading through your site. Thanks for your time! http://Whitebunkbeds.company/shopping-for-quality-white-metal-bunk-beds/

Leave a Reply