Cerita Selenia, Pendobrak ICT di Pesantren

Cerita Selenia, Pendobrak ICT di Pesantren

Ini cerita tentang sesuatu –yang pada masa itu— dilarang tumbuh di “negara dalam negara”,  tapi kekuatannya diam-diam mendobrak gerbang masuknya sendiri. 

Seperti membuka tirai jendela, cerita ini akan menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tampak sangat jelas di balik jendela. Namun banyak orang tak bisa melihat karena ada tirai yang belum disingkap di depan kacanya. “Kemarin saya sudah bertemu dengan Kyai-Kyai di pesantren. Beliau ngendiko internet itu baik asal digunakan sebagaimana mestinya dan boleh digunakan di pesantren. Jadi, saya kira tidak ada masalah dengan internet di Pesantren” tutur seorang pejabat Kominfo dalam sebuah diskusi di Solo 4 tahun silam. Tak disebut kyai di pesantren mana yang dimaksud.

Padahal, sesuatu yang dilarang tumbuh itu dinamai “internet”. Sedang “negara dalam negara” ialah dunia pesantren. Keduanya, di bumi Al Hikmah 2 Benda, Sirampog, Brebes, Jawa Tengah, pernah berseteru dansaling tinju. Hingga semangat luar biasa dari sekelompok santri di dalamnya, mengubah jalan terlarang menjadi prestasi gemilang.

13 tahun lalu, saat santri-santri mengeruburi komputer di salah satu lab pondok.
13 tahun lalu, saat santri-santri mengerubuti komputer di salah satu lab pondok.

Awal tahun 2000-an, menyebut internet di pesantren itu semacam makan buah simalakama. Jika masyarakat Indonesia pada umumnya bisa menikmati internet dengan mulus, di pesantren justru sebaliknya. Sempat dianggap sesuatu yang tabu, haram, dan dikambinghitamkan.

Asumsi miris yang santer beredar kala itu: santri pacaran gara-gara internet, santri bolos sekolah gara-gara internet, santri malas mengaji gara-gara internet, santri telat bayar SPP gara-gara (uangnya terpakai untuk) internet, santri sering terlambat pun gara-gara (keasyikkan main) internet.

Dalam kondisi demikian, jika Anda berada di posisi santri, pengurus, pembina, atau pengasuh pesantren yang ingin memanfaatkan internet untuk kemajuan pesantren, kira-kira apa yang akan Anda lakukan? Nah! Seperti itu pula pemikiran dan perasaan mereka (para pejuang Malhikdua Network) ketika dibenturkan dengan realita membangun teknologi informasi dan komunikasi untuk salah satu sudut Indonesia yang memiliki dunia sendiri –pesantren.

*

Pejuang Malhikdua Network atau lebih dikenal dengan M2Net, jangan dibayangkan mereka punya kekuatan besar atau disokong sponsor dengan dana segudang. Mereka hanya santri biasa, sama seperti yang lain.

Langkah pertama diawali dengan meng-generate malhikdua.com. Sebuah platform kumpulan blog yang ditujukan untuk siswa Malhikdua khususnya, dan santri PP Al Hikmah 2 pada umumnya.

Pengenalan blog perdana dengan pengawasan ketat guru di sebelahnya. (dok m2net)
Pengenalan blog perdana oleh relawan dengan pengawasan ketat guru di sebelahnya. (dok m2net)

Melalui platform tersebut digelorakan semangat Go (to) Blog, dengan memotivasi staff dan abdi pondok untuk berani berselancar di dunia maya, dan mengajari secara langsung bagaimana memanfaatkan internet untuk berkarya.

Jangan dikira ini semudah memberi pelatihan pada siswa sekolah umum. Para santri di sini, jangankan kenal internet, memegang komputer saja banyak yang belum pernah. Sampai-sampai ada celetukan, “Gak nyangka akhirnya saya bisa pegang mouse!”, dari salah satu santri. Saking girangnya bisa mengoperasikan komputer.

Banyak orang bertanya kenapa blog santri tidak pakai blogspot, wordpress, blogdetik, kompasiana, atau lainnya saja? Bukankah membuat sebuah engine blog hosting sendiri itu cukup njlimet. Belum lagi maintenance cost per bulan yang tidak bisa dibilang murah. Barangkali masih ada pula yang berparadigma bahwa IT apalagi dunia perblogeran mustahil tumbuh dan berkembang dikalangan santri lantaran image jumud yang melekat selama ini.

Tentu saja berbagai opini itu tidak seratus persen salah, pun benar. Memang sampai detik ini masih banyak yang memanfaatkan layanan blog gratis untuk website instansi, komunitas, organisasi, juga blog pribadi. Tapi kondisi di pesantren tidak bisa disamakan dengan kondisi lain. Tak umum. Perlu pemikiran khusus yang malah lebih njlimet dari mengelola blog itu sendiri.

Disamping jumlah fasilitas yang tak sebanding dengan jumlah santri dan sulitnya akses internet di pesantren, tekanan-tekanan dari pihak pengelola (kala itu) juga sering membuat ciut nyali para santri yang ingin menjelajah dunia maya.

Kisah gelap santri terus mewarnai pro kontra internet. Seperti beberapa santri yang harus merelakan rambutnya dipangkas sebagai ta’zir (hukuman, red) akibat kepergok memiliki sebuah akun di jejaring sosial. Atau ngantuknya para santri pada jam ngaji yang kerap dikaitkankan dengan keasyikan ngenet.

Seribu manfaat kebaikan internet tak mampu menundukkan hati pengurus pondok. Ya, bagaimana lagi. Seribu kejahatan juga datang dari internet.

Tak ingin terusan-terusan berpolemik, dibuatlah nama malhikdua.com untuk perangkat ngeblog. Malhikdua sendiri adalah ‘brand’ dari Madrasah Aliyah Al Hikmah Dua Benda. Dengan nama yang identik sekolah, para onliners di pesantren (khususnya di wilayah malhikdua) punya alasan jitu agar tetap bisa ngeblog: “Kelola web sekolah!”.

Bandingkan kalau menggunakan blogspot, wordpress, multiplay, atau lainnya. Pasti dilarang karena dianggap itu internet. Citra bahwa santri sering menghabiskan waktu untuk internet-an justru semakin menguat.

Dengan nama yang identik sekolah, para santri netizen di pesantren (khususnya di wilayah malhikdua) punya alasan jitu agar tetap bisa ngeblog: “Kelola web sekolah!”. Bandingkan kalau menggunakan blogspot, wordpress, multiply, atau lainnya. Pasti dilarang karena dianggap itu internet.

Manfaat lain, ada kebanggaan yang bisa ditanamkan kepada santri bahwa akhirnya kami tak identik dengan katro (meski dalam banyak hal seringkali tampak katro). Dengan nama yang lokal ini (bukan wordpress, blogspot, multiply) para santri bakal lebih memilih memposting dunia terdekatnya; tentang asrama, tentang takzir (hukuman), tentang makanan khas desa, dan tak ketinggalan pula mengunggah apa yang didapat dari ngajinya. Setidaknya itu yang diharapkan.

Santri-santri mulai resah saat launching blog Malhikdua yang kemudian berakhir chaos (dok m2net, 2009)
Santri-santri mulai resah saat launching blog Malhikdua yang kemudian berakhir chaos (dok m2net, 2009)

Perjalanan malhikdua.com mulai berjodoh dengan sekelompok santri pada Ramadhan 2008. Sejumlah kurang lebih 40 siswa menunjukkan semangat menggebu untuk belajar blog, sampai rela menerima pelatihan setiap jam 22.00 sampai 01.00 dini hari.

Ya, di jam-jam ini mereka memungkinkan bersentuhan dengan pelajaran non formal pondok/sekolah karena telah masuk masa-masa istiharat. Tentu statusnya ilegal operation, kongkalikong dengan sejumlah petugas, tutup pintu jendela, matikan mic, dan sebagainya. Demikian terus menerus setiap malam selama hampir sebulan.

Keinginan untuk menyebarkan virus ngeblog dan berkarya lewat internet, membuat sekelompok siswa ini mencetuskan ide brilian. Ialah melahirkan komunitas blogger santri. Terpilihlah nama T-Ger.Net (Tim Blogger M2Net, kemudian berubah menjadi Sandal Selen). Bertepatan dengan tahun baru, 1 Januari 2009, komunitas ini dilaunching. Sayangnya ini justru menjadi momok yang amat menyakitkan. (Baca: Belajar dari tragedi 1 Januari)

Tim Blogger M2Net, disingkat TGER Net. Entah karena sering dibully atau tak bawa hoki nama komunitas blog ini kemudian berganti nama Sandal Selen (dok 2009)
Tim Blogger M2Net, disingkat TGER Net. Entah karena sering dibully atau tak bawa hoki nama komunitas blog ini kemudian berganti nama Sandal Selen (dok 2009)

Mereka menjadi bulan-bulanan bully-an santri lain, lantaran pesantren memang belum bersahabat dengan internet. Nama M2Net sering diplesetkan jadi M2Nyet (Nyet ini identik dengan Monyet). Ada juga organisasi di sekolah yang terang-terangan melarang anggotanya menjadi bagian dari M2Net. Bahkan beberapa dari mereka jadi korban fitnah pacaran sampai akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan pesantren, akar masalah yang dikambinghitamkan juga internet.

Sampai suatu hari terjadi kesalahpahaman soal video film pendek berjudul “Kebebasan Berekspresi” yang salah satunya disutradarai Pradna Paramita (Blogger Banyumas, Pegiat Gerakan Desa Membangun) yang waktu itu juga menjadi Volunteer di Malhikdua. Video ini digarap bersama oleh tim Sandal Selen dan ndilalah menang lomba (yang diadakan ICTWatch) saat itu.

Action Expression yang diangkat dalam film ini menyoroti perjuangan santri dalam berkarya lewat internet. Namun ternyata dipandang berbeda oleh pengurus pesantren. “Film ini mencemarkan nama baik pesantren karena memperlihatkan kalau internet dan gadget itu dilarang di pesantren”, tutur seorang pengurus saat menyidang anak-anak M2Net.

Kabar digugatnya film ini malah sempat naik di Detikcom dalam hitungan jam karena beberapa aktor dalam film tersebut terancam dikeluarkan, bahkan 2 relawan dilarang menginjak area pondok. Untungnya kasus ini sudah berakhir damai setelah ada tabayyun antara para pembuat film dengan pengasuh.

*

Tak ada yang sempurna dalam kehidupan karena yang sempurna kadang justru membosankan. Tapi ketidaksempurnaan kisah malhikdua.com justru memberi warna baru dalam dunia santri, setidaknya untuk pesantren Al Hikmah 2.

Penggiat blogger generasi pertama sedang berbagi pengalaman kepada beberapa santri (Dok M2net, 2010)
Penggiat blogger generasi pertama -saya sendiri- berbagi pengalaman kepada beberapa santri (Dok M2net, 2010)

Salah satu hikmah dari gerakan ngeblog ini mengantarkan para Selenia (panggilan untuk anggota Sandal Selen) pada event blogger di berbagai belahan nusantara. Sebutlah Kopdar Blogger Nusantara di Sidoarjo dan Jogja, Diskusi Blogger di Kantor Google Singapura, Pesta Blogger di Jakarta, Ngopi Kere di Purworejo, Festival TIK di Bandung, Wisata Blogger di Wonosobo, Juguran Blogger Banyumas di Purwokerto, Ultah Blogger Ponorogo, Ultah Blogger Bengawan di Solo, Ultah Blogger TPC di Surabaya, hingga Kopdar Blogger ASEAN di Solo.

Slogan Sandal Selen sebagai propaganda bahwa santri yg berinternet tak seburuk santri yg suka ghozop
Slogan Sandal Selen sebagai propaganda bahwa santri yg berinternet tak seburuk santri yg suka ghozob

Selain itu, ada segudang moment lain yang membahagiakan, seperti pemberian Penghargaan BISA (Blogger Internet Santri Award) 2010 di Al Hikmah 2. Sederet penghargaan untuk tim malhikdua.sch.id (website resmi Malhikdua yang dikelola oleh M2Net) dari berbagai perlombaan website sekolah tingkat nasional. Terbitnya 15 buku karya santri pada 2011 lalu. Juga beberapa penghargaan lain yang diterima secara personal oleh anggota Sandal Selen dari perhelatan lomba lainnya.

Inilah  cikal  bakal  lahirnya  peradaban  baru:  peradaban  pesantren  “digital”.

Peradaban dimana pesantren tak lagi alergi dengan internet. Tak lagi melarang internet masuk pesantren, bahkan menjudge bahwa internet itu haram. Peradaban dimana dakwah pesantren tidak hanya terbatas pada sekeliling gedung-gedung megahnya, tapi bisa menjangkau dunia. Karena jika “Santri Katro, Dakwah KO“.

Akhirnya, ini dia kisah Selenia. Pendobrak ICT di pesantren yang ditulis berdasar pengalaman dan pengamatan pribadi selama nyantri. Kisah sekelompok pejuang yang bermimpi menggenggam dunia dari sebalik jendela asrama pesantren yang berpadu politik, intrik, fitnah, hukuman sepihak, birokrasi dan lainnya yang kerap mewarnai setiap peristiwa di dalamnya. Tentu saja tidak terjadi di setiap pesantren secara umum, hanya kebanyakan! :).

Selenia yang selalu percaya akan ‘man jadda wa jada’. Selenia yang akan terus melanjutkan kisah ini, apa pun yang terjadi. ***

Tiga Selenia menuju terminal sepulang kegiatan kopdar blogger di Jogja (2013)
Tiga Selenia menuju terminal sepulang kegiatan kopdar blogger di Jogja (2013)

Disclaimer: …Tentu saja tidak terjadi di setiap pesantren secara umum, hanya kebanyakan! 🙂

Postingan ini sekaligus merespon pede-nya pejabat kominfo yang dikisahkan dalam pembuka postingan. Kyai ngendiko begitu memang benar, bahwa kyai sangat setuju dengan internet sehingga santri harus mengenalnya, namun perlu dicatat bahwa interaksi kyai dengan santri boleh dibilang terbatas ruang dan waktunya. Selebihnya santri akan berhadapan dengan guru, ustadz, teman-teman sekamar, dan lini-lini lain yang saya sebut tadi. Hampir semuanya memiliki sikap berbeda mengikuti kepentingan dan latar belakang masing-masing.

Guru misal, yang umumnya gak melek internet akan membully santri yang bersentuhan dengan internet. Akan melebar kemana-mana kalau saya urai dan sebutkan contoh satu per satu. Intinya, jawaban kyai atas pertanyaan petugas menteri tidaklah mencerminkan keadaan di pesantren sebenarnya.

Harapan dan gagasan dalam pengembangan ICT di Pesantren?

  • Pemerintah tak cukup hanya menjadi fasilitator saja, namun juga memastikan keberadaan alat-alat bermanfaat dengan maksimal. Betapa banyak fasilitas yang diberikan teronggok sempurna karena tidak ada transfer knowledge ke pengelola pondok.
  • Pesantren harus memasukkan pendidikan dan pengetahuan ICT ke dalam kurikulumnya agar mampu membekali santri dengan kemampuan yang uptodate dengan perkembangan jaman. Pengasuh dan pengampu pelajaran di pesantren adalah manifestasi orang tua santri, pengganti orang tua. Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di jamanmu”. Karena zaman memiliki pengaruh kuat pada pribadi seseorang. 
  • Guru/ustadz harus memaksa diri untuk melek internet dan teknologi-teknologi yang menyertainya. Guru adalah suri tauladan ideal bagi siswa. Kalaupun tak mampu kuasai karena keterbatasan bersikaplah fair/jujur, jangan lantas memburukkan gadget/internet dengan hal-hal menakutkan tentang dosa, masa depan suram, sampe neraka.
  • Pengelola pesantren harus terus berinovasi demi menjaga konsistensi dan kesinambungan program pemberdayaan santri.

Lantas, bagaimana dengan upaya membangun Indonesia melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi?

Loh, dari tadi saya bicara tentang negara :).
***

Catatan:

  • Keterangan gambar cover atas adalah Ilustrasi anak jurnal (blog) belajar dengan mematikan lampu agar tidak ketahuan pengurus pondok.
  • Ghozob :bahasa anak santri (ngambil tanpa ijin), umum terjadi di beberapa pesantren yang jumlah santrinya ribuan. Misal: lu ghosob sendal gua ya?
Tulisan ini didedikasikan untuk para santri dan relawan yang mengalami pahit getir pergesekan internet di pesantren, dan disertakan dalam kontes ngeblog dari Kitaindonesia.id dengan tema Membangun Indonesia melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Damae

Leave a Reply