Membangun Masa Depan Indonesia Lewat Masa Lalu

Membangun Masa Depan Indonesia Lewat Masa Lalu

“Give me a museum and I’ll fill it.” — Pablo Picaso

Quote dari seorang seniman berkebangsaan Spanish yang terkenal dengan aliran kubisme itu, membuat saya sejenak tertegun (sekaligus tertampar). Tak sengaja saya lihat hiasan dinding bertuliskan kalimat (sindiran) itu di lorong menuju toilet, di sebuah mall.

Tertegun, lantaran Pablo dengan penuh percaya diri mengatakan secara tersirat, bahwa dia mampu menghasilkan karya hingga memenuhi seisi museum.

Saya sekaligus tertampar, karena selama ini, museum ada di hampir semua kota di seluruh Indonesia —bahkan tak jarang di satu kota terdapat lebih dari satu museum, tapi saya terbilang sangat jarang berkunjung ke tempat yang disebut “museum” itu.

Fakta kedua tersebut, tampaknya tak hanya dialami oleh saya seorang. Tapi hampir mayoritas generasi masa kini, agaknya mengalami hal yang sama. Terkecuali: museum ini ngehits di medsos dan cocok buat selfie. Bahasa anak gaulnya, “The location is path-able, the decoration is instagram-able”.

Sebut saja museum Angkut dan museum Satwa di Batu, museum Konferensi Asia Afrika di Bandung, The Old City 3D Trick Art Museum di Semarang, serta De Mata Trick Eye Museum di Jogja. Pose ‘ala-ala’ generasi muda masih lebih banyak bertebaran dengan latar belakang museum-museum hits itu, ketimbang museum yang konon terbaik di Indonesia —Museum Nasional.

Malah, seorang kawan pernah berceloteh satir begini, “Aku kok tiba-tiba punya jiwa patriotic dan nasionalisme atas negara Singapura begitu masuk The National Museum of Singapore, padahal aku orang Indonesia. Rasa yang tidak aku rasakan saat berkunjung ke berbagai museum di Indonesia, sekalipun berkali-kali”. Nah, lho! Actually, what happen with Museum in Indonesia?

Dalam sebuah perjalanan menelusuri museum-musem di tanah Jawa
Dalam sebuah perjalanan menelusuri museum-musem di tanah Jawa

Jawaban dari pertanyaan itu yang saya coba cari di setiap museum yang saya kunjungi. Hasilnya? Betapa mengejutkan. Dari museum A, B, C, yang saya datangi, semua mengalami nasib yang sama. Kesepian, membosankan, dan sama sekali tak berhasil memanah hati saya hingga terjatuh. Padahal saya sungguh berharap hati saya bisa tertinggal di museum-museum itu agar lekas kembali lagi ke sana.

Kenyataan yang ada, museum yang saya lihat justru tak ada bedanya dengan isi buku sejarah yang usang —dan bikin ngantuk. Tak ada “sesuatu” yang membuat saya (jangankan ingin kembali), minimal, betah berlama-lama. Parahnya lagi, selesai mengelilingi museum, perasaan saya berakhir di situ dan ingatan saya tentang museum tak ada yang tersisa begitu sampai rumah. Bukan ingatan saya yang keterlaluan. Tapi memang penjelasan Guide di museum itu seolah hanya numpang lewat. Tidak cukup menarik untuk diingat.

museum-kartini
Bak isi buku sejarah, penampakan museum Kartini (dan banyak museum-museum lain tentunya) tampak usang dengan pemandangan kolom dan dinding yang dibiarkan retak seperti minus anggaran perawatan. (foto sendiri)

Tentu, kondisi beberapa museum tersebut tak bisa dijadikan tolak ukur dan mengeneralisir seluruh museum di Indonesia. Sebagaimana disebut sebelumnya, Semarang juga punya museum ngehits yang langsung digandrungi kawula muda. The Old City 3D Trick Art Museum. Sekaligus sangat kentara bagaimana museum ini berhasil menyunting hati para pengunjung, dibandingkan museum A, B, C.

Menelaah kondisi ini, saya berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk membuat museum-museum (yang mati suri) ini hidup kembali? Hidup dalam arti bisa menarik hati pengunjung, membuat mereka jatuh cinta, dan menumbuhkan benih rindu agar mereka mau kembali lagi suatu hari nanti. Syukur bisa lebih dari itu: menyampaikan pesan, maksud, dan tujuan keberadaan museum ke para pengunjung.

Jangan sampai memasuki museum, yang terdengar hanyalah rintihan pahlawan. Sayup-sayup. Rintihan kesepian di kesunyian museum.

Berdasar hasil observasi ke beberapa museum, berikut gagasan saya untuk mempromosikan museum di Indonesia:

  1. Art & Multimedia Museum

Museum, seyogyanya memang menjadi tempat untuk mengumpulkan, merawat, menyajikan serta melestarikan warisan budaya dan sejarah bangsa. Beberapa museum yang ada saat ini tentu sudah memenuhi fungsi itu. Namun baru sebatas “menjadi museum”. Belum sampai pada “menjadi museum yang mengedukasi sekaligus menghibur, dan dicintai masyarakat”.

Karenanya, point utama untuk mempromosikan museum adalah bagaimana membuat museum ini memiliki nilai entertain, tanpa meninggalkan atau mengubah nilai-nilai budaya dan sejarah asli yang ada di museum. Entertain merupakan faktor terampuh untuk mencuri perhatian, membuat pengunjung senang, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap museum.

Ketika museum sudah mendapatkan hati masyarakat, otomatis masyarakat akan mau kembali lagi dan mensupport program-program museum. Bahkan (bisa jadi) masyarakat akan mempromosikan museum (misalnya dari mulut ke mulut, posting di sosial media, mengirim tulisan ke media massa) tanpa diminta. Barangkali kalimat terakhir itu dirasa terlampau jauh jangkauannya, saya ralat. Paling tidak, museum bisa memberi edukasi dan menambah wawasan pengunjung dengan cara yang menyenangkan.

Jika diibaratkan museum adalah buku sejarah, kira-kira orang lebih suka membaca buku sejarah yang ‘saklek’ seperti yang diajarkan oleh guru di sekolah, atau buku novel base on true history? Nah! Membuat museum yang mengedukasi sekaligus menghibur ini semacam menulis novel sejarah. Novel lebih ringan, humanis, betah dibaca, tidak kaku, dan mengasyikkan. Tidak menutup kemungkinan, sejarah yang tertuang dalam novel itu lebih mudah diserap dan dipahami oleh pembaca, ketimbang buku sejarah biasa.

Selain novel, orang juga lebih tertarik mempelajari sejarah melalui film. Format audio visual dianggap lebih bisa dinikmati ketimbang melihat benda mati (yang kesepian) di museum. Begitu pula dengan animasi-animasi 3D yang membuat mata tertipu seperti 3D Trick Art Museum. Pas sekali untuk melepas dahaga generasi sekarang yang kegandrungan selfie.

Berjalan "menyusuri gunung es" di sebuah museum 3D di Jatim Park 2
Saya mencoba “menyusuri gunung es” di sebuah museum 3D di Jatim Park 2. 3D Museum menjadi tempat wisata yang cocok buat keluarga. Semua anggota keluarga bebas berekspresi, bahkan ada beberapa frame yang bisa buat foto keluarga.

Gambaran tersebut mengantarkan kita untuk menarik benang merah: museum butuh sentuhan seni dan multimedia untuk menarik perhatian pengunjung. Tentu butuh dana yang tak sedikit untuk melakukan ini. Tapi banyak jalan bisa ditempuh untuk meminimalisir biaya. Salah satunya ialah berkolaborasi dengan berbagai komponen masyarakat.

Ajak komunitas-komunitas yang bergerak di bidang seni maupun multimedia, budayawan, sejarahwan, seniman, aktivis kampus, dan para pelajar untuk duduk bersama. Beri mereka ruang untuk membuat konsep dan mewujudkan itu dengan gotong royong. Sisanya, pengelola museum bisa meminta bantuan pihak swasta sesuai kebutuhan.

Terkait dana, jika anggaran pengelolaan museum belum mencukupi, bisa membuka penggalangan donasi dan investasi. Hari ini masyarakat sudah kian dermawan. Terlebih banyak aplikasi maupun portal donasi yang memudahkan pemberian bantuan, seperti kitabisa.com. Bahkan jika harus melakukan peminjaman (dalam batas wajar), ini bisa ditutup perlahan dengan pendapatan museum melalui tiket masuk.

Ketika museum sudah menjanjikan kepuasan terhadap kunjungan masyarakat, bukankah tidak mustahil kalau mereka akan berbondong-bondong datang? Berapa pun harga tiketnya. Seperti disebut di awal tulisan, Museum Angkut (Batu), Museum Satwa (Batu), Museum Broadcast (Transstudio Bandung) sudah membuktikan betapa harga tiket tidak mengurangi antusiasme pengunjung, lantaran museumnya memang memuaskan. Dan, museum-museum itu dibuat dengan konsep Art & Multimedia Museum.

  1. Sahabat Museum

Strategi kedua ini sebenarnya sudah dimulai oleh museum Ranggawarsita Semarang. Kanca Museum, sebuah komunitas pecinta museum yang menghimpun generasi muda dan mengajak masyarakat luas untuk peduli terhadap museum. Kanca Museum juga mensosialisasikan kegiatannya secara offline (seperti beraksi di CFD) dan online (sosial media). Bagus sekali.

Beberapa angggota Kanca Museum yang mengisi stan komunitas dalam acara Festival Future Leader Summit 2015 di Wisma Perdamaian beberapa waktu lalu. (DOKUMEN KANCA MUSEUM JATENG)
Beberapa angggota Kanca Museum yang mengisi stan komunitas dalam acara Festival Future Leader Summit 2015 di Wisma Perdamaian beberapa waktu lalu. (DOKUMEN KANCA MUSEUM JATENG)

Namun tampaknya, komunitas ini belum mengepakkan sayap ke seluruh wilayah Jawa Tengah, alih-alih lingkup nasional. Publikasi juga belum maksimal. Karenanya, saya berpikir kalau komunitas semacam Kanca Museum ini bisa menjadi program yang wajib dimiliki oleh semua pengelola museum di nusantara. Minimal satu kota punya satu komunitas Sahabat Museum, mengingat terbentangnya luas Indonesia.

Program-program Kanca Musem di Semarang yang ada saat ini pun bisa diadopsi oleh komunitas-komunitas di kota lain. Tapi biarkan mereka berkreasi dan berinovasi. Terlebih, habitual masing-masing kota jelas memiliki perbedaan —yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Yang paling utama, keberadaan komunitas bisa merata dan tiap kota ada membernya. Barulah pelan-pelan ditumbuhkan rasa cinta dan rasa memiliki terhadap museum, sebagai bekal awal melancarkan program-program Sahabat Museum.

Jelas, Sahabat Museum tidak akan terwujud sesuai harapan jika tak ada dukungan penuh dari pihak pengelola museum dan masyarakat. Dukungan ini bisa berwujud kebebasan berekspresi, dana kegiatan, dan peluang-peluang untuk menstimulus ruang gerak mereka. Pendampingan dari pegiat atau aktivis Community Spesialist juga sangat dibutuhkan.

Terutama untuk membangun pondasi awal: bagaimana menarik minat masyarakat untuk jadi member komunitas, merancang program sesuai bidang garapan, membuat event, berkolaborasi dengan pihak-pihak potensial, menyusun anggaran, hingga mewujudkan tujuan dari Sahabat Museum. Semua itu perlu dilakukan agar komunitas berdiri kokoh nantinya.

Sahabat Museum juga bisa belajar banyak dari komunitas-komunitas di provinsi lain yang terbilang lebih maju. Sebut saja provinsi Jabar, khususnya kota Bandung. Beragam komunitas berkembang pesat di kota ini, termasuk komunitas pecinta sejarah (dan museum) seperti Komunitas Aleut. Memang, Bandung memiliki kultur yang sangat berbeda dengan daerah lain. Tapi strategi komunitas-komunitas di Bandung patut dipelajari dan diadopsi, tentu setelah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di daerah masing-masing.

  1. Museum Event

Salah satu strategi menarik minat orang untuk datang ke suatu tempat ialah event. Bahkan tak jarang event itu akhirnya menjadi icon dari tempat tersebut dan selalu dinanti oleh masyarakat luas. Sebut saja Dieng Culture Festival, Surabaya Carnival, Jateng Fair, hingga Car Free Day setiap hari Minggu yang telah terlaksana di berbagai kota.

Begitu pula dengan museum. Di Museum Ranggawarsita Semarang, sudah menunjukkan kalau event ini menjadi salah satu pemikat masyarakat untuk datang ke museum. Sayangnya, langkah ini belum dilakukan oleh banyak museum lain. Masih banyak museum yang lebih memilih sabar menanti pengunjung datang, ketimbang aktif mengajak masyarakat untuk datang (ke museum). Itulah mengapa event-event museum menjadi urgent untuk dilakukan.

Penyelenggaraan event bisa menggandeng (kolaborasi) dengan berbagai pihak. Seperti melibatkan komunitas Kanca Museum, seluruh komunitas dari berbagai bidang lain, mahasiswa, maupun pelajar. Bahkan sangat memungkinkan untuk membuka reqruitment volunteer/relawan dan memberi kesempatan masyarakat luas untuk bergabung menjadi panitia.

Salah satu contoh museum yang sukses dengan penyelenggaraan eventnya adalah Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung beberapa waktu lalu. Selain MKAA memang memberdayakan komunitas Sahabat MKAA (semacam Kanca Museum), MKAA juga membuka kesempatan seluas-luasnya agar masyarakat turut serta dalam gelaran event-event besarnya. Point plusnya, secara tidak langsung, para volunteer atau semua pihak luar yang terlibat dalam event itu akan mempromosikan dan mengajak (minimal) keluarga dan teman dekat untuk datang ke museum.

Masyarakat memenuhi kawasan sekitaran Gedung Merdeka jelang penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/4). Penyelenggaraan KAA di Bandung menjadi daya tarik masyarakat dalam dan luar negeri untuk melihat secara langsung Gedung Merdeka dan perubahan yang dibangun untuk KAA. ANTARA FOTO/Agus Bebeng/Rei/nz/15.
Masyarakat memenuhi kawasan sekitaran Gedung Merdeka jelang penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60 Bandung, Jawa Barat, Minggu (19/4). Penyelenggaraan KAA di Bandung menjadi daya tarik masyarakat dalam dan luar negeri untuk melihat secara langsung Gedung Merdeka dan perubahan yang dibangun untuk KAA. ANTARA FOTO/Agus Bebeng/Rei/nz/15.

Tentu, penyelenggaraan event yang saya maksud itu tidak serta merta harus selalu besar, heboh, dan “wow”. Pengelola Museum bisa membuat event dengan berbagai segmen, level, dan rentang waktu. Misal, rutin setiap bulan membuat mini theater di area museum, bekerjasama dengan sanggar atau komunitas seni (theater, tari, musik, dll) untuk pentas dalam acara itu. Dalam rangkaian acara itu juga bisa disisipi diskusi atau kajian tentang isi museum yang dikupas dari segi sejarah, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya.

Hingga penyelenggaraan event-event tahunan yang tak hanya melibatkan masyarakat luas, tapi juga mengundang wisatawan, berdampak pada perekonomian sekitar, dan menjadi icon museum-museum di suatu daerah. Contoh, seluruh museum serempak mengadakan “History Festival” satu tahun sekali. Jika tak ingin keluar uang banyak untuk menyewa EO, cara terbaiknya dengan gotong royong alias membuka kesempatan berkolaborasi dengan masyarakat. Selebihnya, jika ada kebutuhan yang belum terpenuhi, baru menyewa pihak swasta untuk menggarapnya.

  1. Museum Tour

Strategi berikutnya ialah membuat rangkaian perjalanan wisata yang menyisipkan agenda kunjungan ke museum. Poin terakhir ini, pihak museum bisa bekerjasama dengan penyedia jasa layanan tour & travel, kampus, maupun sekolah. Jasa layanan tour & travel sering membuat paket-paket wisata, sementara kampus dan sekolah sering membuat agenda study tour. Dari sini ada satu kesamaan: traveling/tour.

Surabaya Heritage city tour, Fasilitas ini disediakan oleh House Of Sampoerna dengan nama Surabaya Heritage Track. Dalam sehari ada sebanyak 3 kali berangkat dari House Of Sampoerna untuk hop on dan hop off (HOHO) di beberapa tempat bersejarah di Surabaya. Durasi waktunya sekitar 1.5 sampai 2 jam, dan trip HOHO akan berakhir kembali di museum House Of Sampoerna. (sumber foto: bangjotours.com)
Surabaya Heritage city tour, sebuah layanan yang disediakan oleh House Of Sampoerna dengan nama Surabaya Heritage Track. Dalam sehari ada sebanyak 3 kali berangkat dari House Of Sampoerna untuk hop on dan hop off (HOHO) di beberapa tempat bersejarah di Surabaya. Durasi waktunya sekitar 1.5 sampai 2 jam, dan trip HOHO akan berakhir kembali di museum House Of Sampoerna. (sumber foto: bangjotours.com)

Nah, pengelola museum bisa meminta kerjasama dengan ketiga pihak tersebut agar agenda tour itu menyisipkan satu sesi mampir ke museum. Ini hal yang sangat mungkin untuk diupayakan. Teknis lebih lanjut bisa dibicarakan dengan ketiga belah pihak. Yang dibutuhkan paling utama adalah kejelian pihak museum untuk menangkap peluang.

Terlebih, ada banyak museum yang jaraknya berdekatan dengan lokasi wisata alam maupun buatan. Sebutlah Museum Kereta Api Ambarawa, lokasinya dekat dengan wisata Ambarawa. Banyak pula tour & travel yang membuka paket wisata ke Ambarawa. Pas. Ini peluang.

Selain tour & travel, wisata ke museum juga bisa masuk dalam agenda Kementrian Pariwisata. Terlebih, saat ini Kemenpar sudah memulai gerakan komunitas Generasi Pesona Indonesia (GEN PI). Saya termasuk anggota GEN PI Jabar. Sudah pernah saya tanyakan juga terkait wisata ke museum. Jawabannya, pihak Kemenpar siap support untuk membuat program kunjungan ke museum. Tapi mereka juga memberi catatan: museum harus siap menerima kunjungan. Artinya, museum layak dipublish secara masiv oleh para pengunjung dan siap menerima komentar apa pun dari hasil publish info tersebut.

  1. Menumbuhkan Cinta Museum dari Sekitar

Keberadaan museum diperuntukkan -yang paling utama- bagi masyarakat sekitar museum. Masyarakat sekitarlah yang harusnya paling tahu tentang museum. Paling sering berkunjung, paling setia menjaga dan melestarikan museum. Paling tidak, merekalah yang harusnya paling mencintai museum.

Namun, kenyataan yang ada seringkali bertolak belakang. Masyarakat sekitar museum mayoritas tak beda dengan masyarakat lain nun jauh dari museum. Sama-sama “berjarak”. Sama-sama acuh. Bahasa sadisnya, mau museum ada atau tidak, kehidupan tetap berjalan.

Salah seorang pegiat komunitas pecinta sejarah pernah mengatakan alasan hal itu pada saya. “Isi museum sama sekali tidak ada hubungannya dengan masyarakat sekitar sekarang ini. Rasanya keberadaan museum itu tak ada ikatan batin dengan masyarakat sekitar. Padahal, yang paling peduli dengan museum, harusnya, ya masyarakat sekitar”.

Nah, menghilangkan “jarak” antara museum dengan masyarakat sekitar, itulah pe-er pihak pengelola museum. Salah satu cara yang disarankan olehnya, ialah mengisahkan para leluhur masyarakat sekitar di dalam museum. Mengisahkan ini bisa dengan berbagai cara. Seperti memajang foto-foto leluhur, benda-benda peningalan leluhur yang dinilai berharga, atau garis keturunan leluhur hingga penerus generasi yang masih ada sampai sekarang. Tujuannya tak lain akan menumbuhkan rasa keterikatan masyarakat sekitar dengan museum yang ada di daerah tersebut.

Tentu, ini membutuhkan komitmen pihak pengelola museum untuk mengumpulkan informasi terkait luluhur masyarakat sekitar. Juga kerjasama dan kesediaan masyarakat sekitar untuk membantu museum dalam memberikan informasi maupun benda peninggalan yang bisa dimiliki museum. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau hal ini bisa diupayakan.

Pegiat komutas itu menambahkan, “Asik kan kalau ke museum bisa lihat wajah leluhur saya di sana? Ada yang berpengaruh secara emosional”. Jika semua masyarakat sekitar sudah merasa demikian, tidak menutup kemungkinan, mereka akan mencintai dan melestarikan museum sepenuh hati, bahkan tanpa diminta.

  1. Menggandeng Netizen

We Are Social (Januari 2016) merilis bahwa pengguna internet dunia saat ini sudah mencapai 3,419 miliar jiwa dan yang aktif di media sosial ada 2,307 miliar jiwa. Sementara Indonesia, dari 250-an juta jiwa, yang melek internet baru 88,1 juta jiwa, dan yang aktif bersosial media ada 79 juta jiwa. Dengan rentang usia pengguna terbanyak pada usia 20-29 tahun, di level kedua ada rentang usia 13-19 tahun.

Sumber foto : http://wearesocial.com
Sumber foto : http://wearesocial.com

Data tersebut membuktikan bahwa sebagian orang Indonesia usia muda, dari bangun tidur sampai tidur sampai mau tidur lagi, tidak lepas dari internet dan sosial media. Bahkan tak jarang anak kecil pun sudah dibekali gadget yang terhubung dengan internet. Ini menjadi peluang sekaligus solusi untuk digital promotion bagi museum.

Peluang ini dapat dioptimalkan dengan cara menggandeng netizen, aktivis sosial media, blogger. Mereka bisa digaet untuk bergabung dengan semacam komunitas Kanca Museum, atau dibuatkan komunitas sendiri. Buat event dengan mengundang mereka untuk datang ke museum. Sebaliknya, mereka diminta untuk share tentang museum itu di sosial media maupun blog mereka. Jika ini rutin dilakukan, bukan tidak mungkin apa yang mereka lakukan akan mendongkrak wisata museum di dunia maya.

Selain menggandeng blogger dan netizen, digital marketing juga bisa dilakukan dengan Endorser Media atau menggunakan orang berpengaruh untuk mempromosikan museum. Colek tokoh-tokoh berpengaruh untuk menjadi endorser. Bukan hanya tokoh politik tapi juga artis-artis papan atas yang asli dari daerah tersebut, siswa mahasiswa berprestasi, maupun netizen yang memiliki followers puluhan ribu hingga jutaan. (Di bawah adalah video -saya- tentang kunjungan sekelompok netizen ke Museum Linggarjati yang diselenggarakan salah satu operator selular)

Namun satu hal terpenting yang harus dipastikan, own media maupun own social media milik museum harus sudah ready untuk diakses. Internet merupakan kumpulan link, menghubungkan dari satu jaringan ke jaringan. Kalau media/website maupun sosmed museum saja belum ada atau belum layak untuk diakses publik, ke mana para netizen dan endorser akan menge-link-kan kata museum yang mereka share? Nah! Jelas sudah, pengelola museum harus siap untuk membentuk divisi Website dan Sosial Media sendiri.

Salah satu contoh pihak pemerintah yang berhasil melakukan promo melalui internet adalah Kementrian Pariwisa. Hari ini mereka menggunakan digital marketing untuk mempromosikan Wisata Halal Indonesia, sebelumnya belajar dari Volunteer Lombok-Sumbawa yang berhasil meraih Best World Halal Tourism Destination pada 2015.

Sssst.. Saya juga mendapat bocoran kalau Kementrian BUMN akan membuat komunitas netizen demi mengangkat gong #bumnhadiruntuknegri di dunia maya. Kebetulan, saya juga menjadi bagian dari perintisan komunitas tersebut. Museum, kapan?

Demikian 6 strategi yang saya ajukan untuk membangun masa depan Indonesia lewat masa lalu #eh Museum.

Karena, disadari atau tidak, museum identik dengan masa lalu. Masa lalu, seringkali dikebiri oleh para motivator dan merembes ke dalam otak kita, adalah hal yang harus dilupakan —agar kita bisa terus berjalan ke depan. Masa lalu, juga diasosikan sebagai kenangan, dan mantan. Keduanya, bermuara di curahan hati berbalut sastra, sebagian tersisa di pelupuk tawa dalam parodi nan jenaka. Sisanya, berakhir di hujatan dan sindiran yang dibumbui perjuangan untuk “move on”.

Tapi semoga kita tidak pernah lupa bahwa, museum juga bukti sejarah, dan bangsa kita tak mungkin jadi besar tanpa berkaca pada sejarah. Maka mari sejenak merenungi, sudah sebaik apakah kita menghargai sejarah?***

Foto cover: Saya berdiri di atas lokomotif jaman dulu yang menjadi koleksi Museum Lawang Sewu Semarang.

Damae

You May Like Also

1 Comment

  1. Mantap 😀

Leave a Reply