Tanpa Gengsi, Mahasiswi Jurusan Seni Rupa Ini Kantongi Puluhan Juta Per Bulan Berkat Jualan Mendoan

Tanpa Gengsi, Mahasiswi Jurusan Seni Rupa Ini Kantongi Puluhan Juta Per Bulan Berkat Jualan Mendoan

Ketika sebagian mahasiswa hanya bisa menanti kiriman bulanan dari orang tua, atau berkutat dengan kegiatan kuliah saja sudah kewalahan, mahasiswi jurusan Seni Rupa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini justru nyambi malang-melintang bekerja dan hidup mandiri. Bahkan tabungan hasil keringatnya dijadikan modal usaha yang kini beromzet sekitar 12-15 juta per bulan.

Ialah Suryati, gadis asal Cilacap, Jawa Tengah, yang baru berusia 21 tahun. Seorang pelukis yang juga tengah merintis usaha kuliner di Jl. Wachid Hasyim No. 37, Seturan, Yogyakarta. Dasarnya memang tidak bisa “diam”, senang dagang, dan hobi masak, ia memutar otak untuk membuat produk yang ringan tapi bisa disukai semua orang. Tercetuslah ide untuk jualan mendoan –makanan khas kampung halamannya, tanpa berpikir gengsi sama sekali.

“Bosan kerja sama orang, capek. Sempat maju-mundur, sih. Tapi akhirnya aku berani mutusin buat buka usaha.” kata Aya, sapaan akrabnya. Tak mau meminjam apalagi berhutang modal, Aya bersabar mengumpulkan bekal dengan bekerja sebagai barista dan pramusaji sepulang kuliah. Bahkan bagi anak seorang supplier ayam yang dikirim ke berbagai restoran, “upah” yang ia dapat dari berbagai tempat kerjanya jauh lebih besar dari sekadar uang.

“Diam-diam aku pelajari resep mereka, cara masaknya, pengelolaan restorannya. Aku catetin semuanya biar nggak lupa.” terang Aya dengan penuh semangat. Catatan ini, menurutnya, jadi bekal yang sangat berharga untuk membuka usaha sendiri suatu saat nanti. Sementara ini, dia coba terapkan apa yang cocok untuk jualan mendoan di tepi jalan.

Memulai Usaha Dari Nol

Delapan bulan lalu, Aya mulai membeli sebuah gerobak yang didesain khusus agar bisa digunakan untuk menyimpan bahan, memasak, sekaligus meracik mendoan sebelum disajikan. Seluruh bagian gerobak dicat warna merah muda, kecuali kaca, dan ditempeli tulisan dengan desain sederhana di beberapa bagian yang terbaca: “Mendoan Mamake”.

Nama ini dipilih Aya lantaran resep yang ia punya memang dari “Mamake” atau “Ibunya”. Lengkap dengan tagline yang juga menggunakan bahasa Ngapak (istilah untuk bahasa daerah Cilacap), “Nylekamin Banget Tulih Lah”, artinya: “Enak Banget Pokoknya”.

Persiapan membuka usaha pun berlanjut pada pencarian produsen mendoan yang memang dibuat oleh tangan milik orang asli Cilacap, namun berdomisili di Yogyakarta. Juga berbelanja aneka bahan dan bumbu yang diperlukan, Aya benar-benar terjun langsung untuk memilih dan membelinya sendiri di pasar pagi.

Usai belanja, Aya gesit meracik bumbu dengan kedua tangannya. Racikan Aya menghasilkan 3 menu mendoan yang jadi andalan: mendoan keju, mendoan tepung pedas, dan mendoan pizza. Semua menu dibandrol 10 ribu per porsi (isi 4 lembar mendoan besar) lengkap dengan cabai rawit hijau dan sambal kecap, juga pilihan toping saus, mayonnaise, atau keju.

Mulai Menikmati Hasil

Kata orang bijak, usaha memang tak pernah mengkhianati hasil. Baru 6 bulan berjalan, Mendoan Mamake yang buka setiap hari pada pk. 15.00 – 22.00 WIB ini masuk jajaran Top 3 Mendoan Cilacap yang terkenal di Jogja, selain Mendoan Maning dan Mendoan Bocil.

Tak hanya jualan offline, Mendoan Mamake juga bisa dipesan via Go Food maupun DM di Instagram @mendoan_mamake. Kini Aya pun sudah bisa menggaji 3 orang karyawan untuk membantu tugas-tugasnya. Tempat tinggal pun pindah dari kontrakan satu kamar menjadi satu rumah. “Kamar udah nggak muat buat naruh barang dagangan, jadi nyari rumah.”, terangnya.

Meski masih tergolong UMKM, tapi memasuki bulan ke-8 saat ini, Mendoan Mamake sudah membuka franchise di dua lokasi berbeda. Sistem franchise ini dipatok dengan harga 10-15 juta per gerobak. “Semua bahan dan resep dari aku, mereka tinggal goreng dan melayani pembeli aja.” jelas Aya.

Setiap pagi usai belanja dan meracik bumbu, Aya mengantar bahan dan bumbu siap pakai ke lokasi gerobak franchise di Jl. Babarsari dan Jl. Caturtunggal (depan Kampus Atmajaya), Yogyakarta. Ketika urusan ini kelar, barulah ia bisa siap-siap berangkat ke kampus atau menggarap tugas hariannya sebagai mahasiswa.

Bisnis Jalan, Kuliah Tetap Lancar

Ketika ditanya apakah bisnis ini menganggu kuliahnya yang baru memasuki semester 6, dengan tegas Aya menjawab, “Sama sekali enggak. Kuliah tetap jalan seperti biasa.”. Bahkan gadis yang menyukai aliran lukisan realisme ini sudah sering menggelar pameran karya dan masih sempat mengikuti berbagai kegiatan di kampus.

Di sela semua kesibukan bisnis dan kampusnya, Aya malah masih punya waktu untuk membuka online shop @anak_kecil_store1 yang menjual kebutuhan fashion untuk wanita. Tak cukup sampai di situ, Aya yang tangannya selalu “gatal” jika tidak beraktivitas, juga merambah jualan Jasuke (jagung susu keju) Alla Mamake yang lokasinya bersebelahan dengan gerobak Mendoan Mamake. “Sementara ini masih merintis, jadi masih sama aku, belum pakai karyawan.” terang Aya.

Bagi gadis berkulit eksotis yang rajin main instastory melalui akun @aya_semok ini, apa pun background pendidikan seseorang, punya bisnis (sekecil apa pun) tetap wajib hukumnya. “Jadi perempuan harus mandiri, jangan sampai bergantung sama orang lain, apalagi kalau (nanti) cuma mengandalkan suami.” kata Aya mengakhiri perbincangan.

*Penulis tak sengaja berkenalan dengan sosok Aya saat sedang sama-sama menunggu kereta di stasiun Sidareja, namun tujuan akhirnya beda: satu Yogyakarta, satu Surabaya. Kisahnya mengalir begitu saja selama kurang dari 30 menit, sayangnya penulis lupa menyalakan perekam suara. Jadi semua yang tertuang sebatas apa yang tersisa dalam ingatan. Berharap suatu hari nanti bisa berjumpa lagi untuk melengkapi kisah ini. Sukses untuk Mendoan Mamake dan gadis istimewa bernama Aya.

**Foto: dok. Aya.

Damae

23 Comments

  1. Salut ih di usia semuda itu sdh mampu memiliki penghasilan sendiri dari usahanya… ngomong2, saya jadi kepikiran nih untuk jualan mendoan juga😀 karena ya mmg mendoan itu cemilan favorit saya juga sih😄

    1. Kalau mbak Rita mau jual mendoan, saya daftar jadi pembeli pertama, ah.. 😀

  2. what a inspiring girl 😀 salut sama anak muda yang gigih seperti aya. Semoga selalu sukses usahanya.

    1. betul, Mbak Enny.. Sukses juga untuk Mbak Enny, ya..

  3. Waw, mendoan. Favorit. 😀 yummy

    1. Wah, sama kita, nih.. mendoan juga cemilan favorit saya, mas.. 😀

  4. Saya selalu respect terhadap anak-anak muda kreatif yang tak mau hanya menggantungkan hidup kepada orang tua. Karena hal inilah yang akan menopang masa depan mereka bila berada situasi yang sulit. Salut untuk Aya.

    1. Sepakat, Pak Dian.. 😀

  5. Wah hebatnya ya masih kuliah sudah pandai mengembangkan bisnis..😊

    1. Kece banget emang si Aya ini, Mbak.. 🙂

  6. Salut sama mba Aya.. merintis usaha yang juga melestarikan kuliner khas daerahnya.. laris terus buat mendoan mamake. Walau pertemuan singkat tapi bisa tertuang apik loh mba 🙂

    1. Aaaa.. makasih buat pujiannya, Mbak Dewi.. Aku terharu.. 🙂

  7. keren ya.. Suka kagum sama org spt ini…. 🙂 jarang2 yg punya semangat kyk dia..

    1. Betul banget, Teh Ida.. patut ditiru pokoknya 🙂

  8. Wow…bener-bener menginspirasi. Generasi yang luar biasa…saluuuttt

    1. yuhuuu.. kece pisan ini si Aya, mbak..

  9. Jadi malu pada Aya, karena sebagai mamah-mamah malah maju mundur mulu untuk mulai bisnis reseller opak Cipeujeuh asal kampung saya, reseller buku terbitan Rainbow Childeren Book, dan Sabun Gove. Itu gegara rumah jauh dari kecamatan jadi bingung dengan pemasaran dan masalah kemasan bagi opaknya. Salut untuk Mbak Aya.
    Mbak Damae, ini Mbak yang dulu ngadain GA Pesantren, ya? Maaf, saya lama ngilang gegara sarana dan prasarana. Jumpa lagi sekarang. 🙂

    1. Halo, Mbak Rohyati.. Iya, betul, Mbak.. Ini Damae yang dulu, heheh.. Apa kabar, Mbak Rohyati? Makasih sudah mampir.
      Walah, sayang banget itu, Mbak.. Ayok dilanjutkan lagi usahanya, Mbak. Apalagi sekarang pemasaran bisa by online semua. Kemasan bisa meredesign dan tinggal rebranding aja. Semangat, Mbak Rohyati.. 🙂

  10. Suka banget sama anak muda yang seperti ini. Sejak muda sudah punya kegiatan yang positif banget 🙂

    1. Betul, Mak Keke.. Tunas muda macam ini harus dijadikan role model 🙂

  11. Keberaniannya mengambil keputusan membuka usaha sendiri karena jenuh ikut orang itu … yang perlu diteladani.
    Banyak orang yang masih ragu saat akan memutuskan resign kerja untuk jadi mandiri.

    1. Betul banget, Mas Himawan.. nggak semua orang berani mengambil keputusan senekad itu.

  12. Wah.. Keren. Inspiratif banget.
    Muda, kreatif dan tidak pemalu. Jos…

Leave a Reply